Idul Fitri tahun ini sangat berbeda, lebih tepatnya istimewa, sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Hari besar agama yang dirayakan oleh  saudara kita umat muslim secara kebetulan bersamaan waktunya dengan Hari Raya Kenaikan Isa Almasih yang dirayakan oleh umat kristiani. Nuansa indahnya keberagaman juga sangat terasa di SMA K Sang Timur Yogyakarta dari dulu hingga sekarang ini.

Pada hari Senin, 17 Mei 2021 SMA Katolik Sang Timur mengadakan acara ibadat sabda sekaligus syawalan Idul Fitri 1442 H bersama beberapa guru dan karyawan muslim. Acara fenomenal tersebut juga dihadiri oleh Ibu CE. Subardini, S.Pd selaku ketua Yayasan Perwakilan Sang Timur DIY/Jateng, suster-suster Sang Timur, dan para guru yang sudah purna tugas dari SMA Katolik Sang Timur Yogyakarta.

Ibadat sabda dipimpin oleh Octavianus de Britta, seorang alumnus SMA Katolik Sang Timur yang baru saja menyelesaikan pendidikan KPA (Kelas Persiapan Atas) di Seminari Menengah Mertoyudan. Setelah ibadat sabda dilanjutkan dengan ramah tamah.

Dalam untaian kata, Suster Antoni PIJ menyampaikan bahwa keragaman dan toleransi hidup beragama ibarat pelangi yang tak hentinya memancarkan keindahan dan kesejukan dalam hati setiap insan.

Hal yang juga menarik dan menginspirasi adalah ketika guru dan karyawan muslim menyampaikan sharingnya atau hikmah syawalan di SMA Katolik Sang Timur.

Pak Tofan menggambarkan suasana Shalat Id yang dilaksanakan hanya bersama dengan keluarga di rumah. Kebersamaan beribadah dalam keluarga dengan tetap mentaati protokol kesehatan dalam situasi pendemi Covid-19 memberikan hikmah yang luar biasa.

Hal menarik lainnya disampaikan oleh Pak Endarto bahwa fase kehidupan kita diharapkan seperti metamorfosa kepompong dan kupu-kupu. Melihat atau bahkan mendengar kata ‘ulat’ kebanyakan reaksi spontan kita adalah merinding, takut, jijik dikarenakan bentuk fisik binatang melata tersebut. Ini sebuah perumpamaan bagi kehidupan manusia yang hina, dina, berdosa di hadapan Allah sehingga dijauhi oleh umat lainnya.

Metamorfosa mulai terjadi ketika ulat berubah menjadi kepompong. Ada saat dimana manusia perlu berintrospeksi diri untuk selalu memperbaiki diri. Hal ini antara lain dilakukan dengan ‘mati raga’ yaitu menjalankan ibadah puasa yang dilakukan oleh umat muslim di bulan Ramadhan.

Fase kehidupan berikutnya adalah fase kepompong berubah menjadi kupu-kupu dengan warna warni sayapnya. Setelah melakukan ‘mati raga’ dengan menahan hawa napsu, akhirnya lahirlah ‘manusia baru’ yang diharapkan berkenan di hadapan Allah.

Sungguh momentum yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan sosial…

Oleh: Yovita Mahanari.K